Langsung ke konten utama

Zuhud dan Wara'

Ustadz Muhammad Hafidz Anshari, BA
02 Januari 2022 / 10 Jumadil Akhir 1444
Masjid Imam Syafi'i Banjarmasin 

Zuhud ada 2 macam
1. Zuhud terhadap dunia
2. Zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain

Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi akhirat.

Zuhud juga bisa diartikan meninggalkan hal yang dapat membuat berpaling dari Allah ta'ala.

Dunia tidak tercela, tapi jika mementingkan kepentingan dunia daripada akhirat, maka ini tercela.

Dalam mengumpulkan harta, maka harta harus menjadi sarana untuk tujuan akhirat.

Harta akhirat manfaatnya jauh lebih besar daripada harta dunia. Seperti halnya hadits masyhur tentang keutamaan solat sunnah qobliyah subuh.

Dunia tidak tercela secara zat nya.

Namun yang dilihat adalah caranya mendapatkan dunia. 

Kemudian apakah dunia itu menjadi sarana dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala.

Yang perlu diperhatikan adalah sikap dan cara nya memandang dunia.

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berdoa agar jangan sampai dunia menjadi tujuan utama.

Zuhud letaknya didalam hati. Tidak mengapa menjadi orang kaya dan hati tetap zuhud.

Zuhud tidak bisa dinilai dari penampilan. Karena zuhud adalah amalan hati.

Zuhud terhadap dunia ada 3 perkara.
1. Hamba lebih yakin dengan apa yang ada disisi Allah Ta'ala daripada dengan apa yang ada ditangannya.

Apabila seseorang meyakini hal diatas, maka orang tersebut tidak mencari rezeki dengan cara yang haram.

Hal diatas juga akan menimbulkan perasaan ketergantungan kepada orang lain, hanya akan bergantung kepada Allah.

Tidak tertipu dengan apa yang dimiliki atau lupa dengan Allah Ta'ala. Hamba tersebut sadar hartanya dari Allah Ta'ala.

2. Hamba yang diberi musibah dunia, berupa hilangnya harta, meninggalnya anak, dsb maka hamba tsb lebih mengharapkan musibah tsb drpd musibah tsb tidak menimpanya.

Karena hamba tsb meyakini banyak kebaikan pasti ada dibalik musibah yang menimpanya.

Musibah dunia, dibaliknya banyak pahala.

Beruntungnya seseorang di akhirat, mendapatkan pahala yang banyak karena menghadapi musibah dengan sabar.

3. Hamba ini bersikap sama saat dipuji ataupun dicela. Tidak memperdulikan komentar dari manusia.

Saat seseorang mempunyai dunia, seringkali ada saja yang memuji dan mencela.

Yang dinilai oleh hamba ini adalah pujian dan penilaian dari Allah Ta'ala, bukan pujian dari makhluk.

Zuhud yang kedua adalah zuhud yang ada di sisi manusia.

Tidak bergantung kepada manusia.

Secara asal, sesorang tidak dianjurkan untuk meminta bantuan kepada orang lain.

Namun, para ulama membolehkan meminta, diantaranya
1. Meminta yang merupakan hak nya.
2. Meminta dalam kondisi yang mendesak.

Zuhud berkaitan harta, sangat sulit diterapkan.

Zuhud mendatangkan kecintaan dari Allah Ta'ala dan dari manusia.

Perkataan tabi'in, Hasan Al Basri, apabila ada seseorang yang meungguli kita dalam perkara dunia, maka unggulilah dalam perkara akhirat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bab Mencari Berkah

Ustadz Muhammad Hafidz Anshori, Lc 31 Juli 2022 / 03 Muharram 1444 Masjid Al Faruq Banjar  Orang musyrikin bangga dengan anak laki-laki, namun mereka menganggap Allah mempunyai anak perempuan. Latta, Uzza, Mana, adalah nama berhala besar yang dibuat oleh kaum musyirikin. Ketiga berhala tersebut adalah nama-nama Allah yang dijadikan muannats / perempuan (kaidah bahasa arab). Latta, Uzza, Mana dianggap anak perempuan Allah oleh kaum musyrikin. Padahal kaum musyirikin tidak menyukai anak perempuan. Tidak boleh mencari keberkahan kepada batu, pohon, kuburan. Secara asal, hukumnya adalah syirik kecil. Ketika mencari keberkahan harus merujuk kepada dalil. Sebagian makhluk, waktu, tempat dijadikan mengandung keberkahan oleh Allah. Contoh: fisik nabi, makan sahur, bulan ramadhan, masjidil haram dll. Foto bukan sumber keberkahan. Foto siapapun, karena tidak ada dalil yang menetapkan foto mengandung keberkahan. Penyebab utama jatuh ke dalam kesyirikan adalah kebodohan, tidak belajar. Niat ya...

Tauhid Uluhiyah

Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc 21 Juni 2023 / 03 Dzulhijjah 1444 Masjid Imam Syafi'i Banjarmasin   Kata tauhid sering diartikan dengan uluhiyah dalam buku-buku Islam. Tauhid uluhiyah, menjadikan ibadah satu-satunya hanya untuk Allah Ta'ala. Al uluhiyah berasal dari kata al illah, yang merupakan salah satu dari nama Allah Ta'ala. Al husna, nama-nama Allah Ta'ala yang artinya sampai kepada puncak kebaikan. Jika orang kafir bertanya, siapa Allah, maka jawabannya adalah Zat Yang Ditaati atau Zat Yang Diibadahi. Allah Ta'ala memiliki sifat diibadahi. Ibadah akan sah disisi Allah, jika dipenuhi 3 rukun, yaitu 1. Rasa harap 2. Rasa takut 3. Rasa cinta

Keutamaan Mengajarkan Ilmu

Ustaz Dr. M. Haikal Ali Basyarahil, Lc, MA Jumat, 21 Shafar 1447/15 Agustus 2025 Masjid Imam Syafii Abu Musa Al Asy'ari, sahabat nabi yang didoakan nabi. Abu Musa, banyak berdakwah di kota Yaman. Meninggal tahun 42 H. Orang dan ilmu diibaratkan nabi dengan tanah. Ada 3 macam tanah, tanah yang bisa menyerap air, tanah yang tidak menyerap air tapi menahan (tanah ini masih ada manfaat utk tanaman), ada tanah yang tidak menyerap dan menahan. Tanah jenis 1, orang yang paham ilmu, mengamalkannya. Tanah jenis 2, orang yang paham ilmu, tidak mengamalkan (perkara sunnah), namun menyebarkannya. Tanah jenis 3, orang yang tidak paham ilmu. Tanah jenis 2 persis seperti orang Yahudi, mengetahui ilmu (kebenaran) namun tidak mengamalkan. Ilmu harus mempengaruhi diri (menjadi lebih baik). Orang berilmu hidupnya tenang. Ilmu erat kaitannya dengan petunjuk. Misi nabi adalah menyampaikan ilmu dan petunjuk. Ahli ilmu mengatakan (Ibnu Qayyim), ilmu menjadi kebutuhan manusia melebihi makan dan minum. Mer...