Langsung ke konten utama

Keadaan Para Malaikat

Ustadz Muhammad Hafidz Anshori
13 Nopember 2022 / 19 Rabbi'ul Akhir 1444
Masjid Al Faruq Banjar

Dalil surah Saba' ayat 23.

Sebagian orang musyrikin, mengatakan malaikat adalah anak perempuan Allah.

Malaikat ketakutan saat mendengar firman Allah. Kemudian dihilangkan rasa takut tersebut, maka para malaikat dapat mendengar firman Allah.

Malaikat memiliki sayap. Malaikat dapat pingsan saat mendengar firman Allah karena takutnya.

Bagaimana sayap malaikat dan bagaimana malaikat pingsan tidak perlu dipelajari.

Allah berbicara, sesuai dengan keagungan Allah.

Tidak ada yang sama dengan Allah. Berbicara nya Allah tidak sama dengan makhluk.

Metode ulama dalam menafsirkan alquran ada 4 tingkat.
1. Ayat dengan ayat yang lain.
2. Ayat dengan hadits
3. Ayat dengan perkataan sahabat dan tabiin
4. Ayat berdasarkan konsekuensi bahasa, seperti misalnya sifat-sifat Allah. Allah mempunyai wajah.

Keempat metode ini berupa urutan prioritas. Metode 2 tidak boleh dilakukan jika dapat dilakukan dengan metode 1.

Keistimewaan dan karakter para malaikat berbeda dengan manusia.

1. Dari segi ibadah, malaikat ahli ibadah, tidak pernah futur. Jika malaikat disuruh sujud, maka malaikat akan selalu sujud sampai kiamat.

2. Dari sisi kesalihan, malaikat tidak pernah bermaksiat.

3. Dari segi fisik, malaikat terlebih dahulu diciptakan daripada manusia. Malaikat dari cahaya. Jin dari api.

4. Dari segi kekuatan, malaikat adalah makhluk Allah yang sangat kuat. Malaikat dikirim untuk mengazab kaum nabi Luth untuk membalikan negeri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keutamaan Mengajarkan Ilmu

Ustaz Dr. M. Haikal Ali Basyarahil, Lc, MA Jumat, 21 Shafar 1447/15 Agustus 2025 Masjid Imam Syafii Abu Musa Al Asy'ari, sahabat nabi yang didoakan nabi. Abu Musa, banyak berdakwah di kota Yaman. Meninggal tahun 42 H. Orang dan ilmu diibaratkan nabi dengan tanah. Ada 3 macam tanah, tanah yang bisa menyerap air, tanah yang tidak menyerap air tapi menahan (tanah ini masih ada manfaat utk tanaman), ada tanah yang tidak menyerap dan menahan. Tanah jenis 1, orang yang paham ilmu, mengamalkannya. Tanah jenis 2, orang yang paham ilmu, tidak mengamalkan (perkara sunnah), namun menyebarkannya. Tanah jenis 3, orang yang tidak paham ilmu. Tanah jenis 2 persis seperti orang Yahudi, mengetahui ilmu (kebenaran) namun tidak mengamalkan. Ilmu harus mempengaruhi diri (menjadi lebih baik). Orang berilmu hidupnya tenang. Ilmu erat kaitannya dengan petunjuk. Misi nabi adalah menyampaikan ilmu dan petunjuk. Ahli ilmu mengatakan (Ibnu Qayyim), ilmu menjadi kebutuhan manusia melebihi makan dan minum. Mer...

Zuhud dan Wara'

Ustadz Muhammad Hafidz Anshari, BA 02 Januari 2022 / 10 Jumadil Akhir 1444 Masjid Imam Syafi'i Banjarmasin  Zuhud ada 2 macam 1. Zuhud terhadap dunia 2. Zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi akhirat. Zuhud juga bisa diartikan meninggalkan hal yang dapat membuat berpaling dari Allah ta'ala. Dunia tidak tercela, tapi jika mementingkan kepentingan dunia daripada akhirat, maka ini tercela. Dalam mengumpulkan harta, maka harta harus menjadi sarana untuk tujuan akhirat. Harta akhirat manfaatnya jauh lebih besar daripada harta dunia. Seperti halnya hadits masyhur tentang keutamaan solat sunnah qobliyah subuh. Dunia tidak tercela secara zat nya. Namun yang dilihat adalah caranya mendapatkan dunia.  Kemudian apakah dunia itu menjadi sarana dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Yang perlu diperhatikan adalah sikap dan cara nya memandang dunia. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berdoa agar jangan sampai dunia...

Tauhid Uluhiyah

Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc 21 Juni 2023 / 03 Dzulhijjah 1444 Masjid Imam Syafi'i Banjarmasin   Kata tauhid sering diartikan dengan uluhiyah dalam buku-buku Islam. Tauhid uluhiyah, menjadikan ibadah satu-satunya hanya untuk Allah Ta'ala. Al uluhiyah berasal dari kata al illah, yang merupakan salah satu dari nama Allah Ta'ala. Al husna, nama-nama Allah Ta'ala yang artinya sampai kepada puncak kebaikan. Jika orang kafir bertanya, siapa Allah, maka jawabannya adalah Zat Yang Ditaati atau Zat Yang Diibadahi. Allah Ta'ala memiliki sifat diibadahi. Ibadah akan sah disisi Allah, jika dipenuhi 3 rukun, yaitu 1. Rasa harap 2. Rasa takut 3. Rasa cinta