Langsung ke konten utama

Sujud Sahwi

Ustadz Muhammad Hafizd Anshari, Lc
25 Juli 2022 / 26 Dzulhijjah 1443
Masjid Imam Syafii Banjarmasin

Tempat sujud syahwi ada 2 bagian,
1. Sebelum salam
2. Setelah salam

Orang solat diberikan pilihan, bila dia ingin dapat sujud sebelum salam ataupun sesudah salam.

Para ulama berbeda pendapat, yang mana yang paling afdol, apakah sebelum salam ataupun setelah salam.

Secara umum sujud syahwi disyariatkan karena 3 sebab, yaitu
1. Penambahan
2. Pengurangan
3. Ragu-ragu

Para ulama bersepakat, ketika seseorang sengaja meninggalkan rukun atau wajib solat, maka solat tidak sah. Tidak bisa ditambal dengan sujud sahwi.

Ketika meninggalkan perkara sunnah, maka tidak wajib sujud sahwi.

Jika ada penambahan dalam solat, lebih afdol sujud sahwi setelah salam.

Jika ada pengurangan dalam solat, lebih afdol sujud sahwi sebelum salam.

Jika ragu-ragu (tidak condong), kalau berkenaan dengan jumlah, maka ambil yang paling sedikit. Contoh, ragu rakaat 3 atau 4, maka ambil lah 3, dan sujud sahwi sebelum salam.

Jika ragu-ragu namun ada sedikit kecondongan, maka sujud sahwi setelah salam.

Jika sengaja menambah rakaat, maka solat tidak sah.

Jika salah baca zikir, dan tersadar, kemudian sempat memperbaiki bacaan, maka tidak perlu sujud sahwi.

Jika salah baca zikir (rukuk misalnya), dan sudah terlewat, maka tidak perlu kembali, dan sujud sahwi, afdolnya setelah salam.

Dalam pengurangan, jika lupa takbiratul ihrom, maka solat tidak sah, meskipun lupa.

Misalnya tidak ingat rukun (sujud rakaat terakhir), dan ingatnya setelah salam, maka sesegera mungkin sujud dan tasyahud akhir.

Rukun harus tetap dikerjakan meskipun lupa. Kemudian sujud sahwi setelah salam.

Jika meninggalkan kewajiban solat (tasyahud awal) dan ingat sebelum berdiri (belum tegak) maka kembali duduk tasyahud awal, tidak perlu sujud sahwi.

Jika meninggalkan kewajiban solat (tasyahud awal) dan ingat sudah berdiri, maka tidak perlu kembali namun wajib sujud sahwi sebelum salam.

Jika yang ditinggalkan kewajiban solat, maka wajib sujud sahwi.

Ragu-ragu, jika muncul setelah solat, maka ragu-ragunya tidak dianggap karena solat sudah selesai.

Ragu-ragu karena was was yang muncul dipikiran di tiap solat, maka tidak dianggap, dan tidak perlu sujud sahwi.

Ragu-ragu yang sangat banyak, tidak dianggap, karena ini adalah penyakit.

Waswas muncul biasanya dimulai dalam bersuci.

Ragu-ragu, yang bisa dipilih, misak 3 atau 4, namun ada sedikit keyakinan 4, maka pilih 4 kemudian sujud sahwi.

Ragu-ragu, yang tidak bisa memilih, 3 atau 4, maka pilih 3, kemudian sujud sahwi.

Tata cara sujud sahwi sama dengan sujud dalam solat.

Sujud sahwi 2 kali sujud dan diantaranya ada 1 kali duduk iftiros. Kemudian salam.

Bacaan sujud sahwi sama dengan sujud dalam solat.

Dalam sujud sahwi tidak ada tasyahud lagi.

Duduk diantara dua sujud sahwi, sama bacaannya dengan bacaan duduk diantara dua sujud dalam solat.

Boleh menambah doa pada sujud sahwi. Karena sujud secara umum adalah kondisi mustajab doa.

Jika menjadi makmum, lupa membaca zikir gerakan solat, maka tidak dianggap, karena makmum mengikuti imam.

Makmum tidak sujud sahwi, kecuali imamnya yang sujud sahwi, maka makmum mengikuti.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keutamaan Mengajarkan Ilmu

Ustaz Dr. M. Haikal Ali Basyarahil, Lc, MA Jumat, 21 Shafar 1447/15 Agustus 2025 Masjid Imam Syafii Abu Musa Al Asy'ari, sahabat nabi yang didoakan nabi. Abu Musa, banyak berdakwah di kota Yaman. Meninggal tahun 42 H. Orang dan ilmu diibaratkan nabi dengan tanah. Ada 3 macam tanah, tanah yang bisa menyerap air, tanah yang tidak menyerap air tapi menahan (tanah ini masih ada manfaat utk tanaman), ada tanah yang tidak menyerap dan menahan. Tanah jenis 1, orang yang paham ilmu, mengamalkannya. Tanah jenis 2, orang yang paham ilmu, tidak mengamalkan (perkara sunnah), namun menyebarkannya. Tanah jenis 3, orang yang tidak paham ilmu. Tanah jenis 2 persis seperti orang Yahudi, mengetahui ilmu (kebenaran) namun tidak mengamalkan. Ilmu harus mempengaruhi diri (menjadi lebih baik). Orang berilmu hidupnya tenang. Ilmu erat kaitannya dengan petunjuk. Misi nabi adalah menyampaikan ilmu dan petunjuk. Ahli ilmu mengatakan (Ibnu Qayyim), ilmu menjadi kebutuhan manusia melebihi makan dan minum. Mer...

Zuhud dan Wara'

Ustadz Muhammad Hafidz Anshari, BA 02 Januari 2022 / 10 Jumadil Akhir 1444 Masjid Imam Syafi'i Banjarmasin  Zuhud ada 2 macam 1. Zuhud terhadap dunia 2. Zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi akhirat. Zuhud juga bisa diartikan meninggalkan hal yang dapat membuat berpaling dari Allah ta'ala. Dunia tidak tercela, tapi jika mementingkan kepentingan dunia daripada akhirat, maka ini tercela. Dalam mengumpulkan harta, maka harta harus menjadi sarana untuk tujuan akhirat. Harta akhirat manfaatnya jauh lebih besar daripada harta dunia. Seperti halnya hadits masyhur tentang keutamaan solat sunnah qobliyah subuh. Dunia tidak tercela secara zat nya. Namun yang dilihat adalah caranya mendapatkan dunia.  Kemudian apakah dunia itu menjadi sarana dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Yang perlu diperhatikan adalah sikap dan cara nya memandang dunia. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berdoa agar jangan sampai dunia...

Tauhid Uluhiyah

Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc 21 Juni 2023 / 03 Dzulhijjah 1444 Masjid Imam Syafi'i Banjarmasin   Kata tauhid sering diartikan dengan uluhiyah dalam buku-buku Islam. Tauhid uluhiyah, menjadikan ibadah satu-satunya hanya untuk Allah Ta'ala. Al uluhiyah berasal dari kata al illah, yang merupakan salah satu dari nama Allah Ta'ala. Al husna, nama-nama Allah Ta'ala yang artinya sampai kepada puncak kebaikan. Jika orang kafir bertanya, siapa Allah, maka jawabannya adalah Zat Yang Ditaati atau Zat Yang Diibadahi. Allah Ta'ala memiliki sifat diibadahi. Ibadah akan sah disisi Allah, jika dipenuhi 3 rukun, yaitu 1. Rasa harap 2. Rasa takut 3. Rasa cinta