Langsung ke konten utama

Rasa Takut (hauf) dan Harap (roja)

Ustadz Dr. Muhammad Haikal Ali Basyarahil, Lc, MA
15 Juli 2022 / 16 Dzulhijjah 1443
Masjid Imam Syafi'i Banjarmasin

Amalan hati yang paling agung adalah rasa takut kepada Allah.

Rasa takut kepada Allah didapatkan dengan mengenal sifat-sifat Allah.

Para sahabat adalah orang-orang yang paling takut kepada kesyirikan.

Para sahabat senantiasa selalu merasa kurang menunaikan hak-hak Allah.

Takut, banyak macamnya, setidaknya ada 4.

1. Takut syar'i, yaitu diantaranya takutnya orang beriman ibadah tidak diterima. 

2. Takut yang merupakan kesyirikan, menggantungkan rasa takut yang tidak mampu, kecuali Allah. Contoh: takut pohon, jika pohon tsb tidak dimuliakan, maka akan merasa ditimpa musibah 

3. Takut yang diharamkan. Contoh: takut solat ke masjid karena dilarang oleh bos, takut mengeluarkan zakat karena tidak berani kepada istri.

4. Takut kepada Allah yang tidak diiringi rasa harap. Tidak boleh seorang muslim hanya takut saja kepada Allah, tanpa ada rasa harap ampunan. Biasanya takut ini menimpa kelompok khawarij.

5. Takut yang dibolehkan. Takut yang biasa ada pada manusia. Contoh, takut api karena panas.

Biasanya dalam alquran disebutkan rasa takut dan rasa harap berdampingan.

Orang, semakin takut kepada Allah, semakin berkurang takut kepada selain Allah.

Rasa harap adalah bagian dari ibadah.

Roja, berbaik sangka kepada Allah, bergembira terhadap janji Allah.

Mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah cara menumbuhkan rasa roja.

Membenarkan, meyakini dalil-dalil yang berbicara tentang janji-janji Allah, juga dapat menumbuhkan rasa roja.

Hal yang diharapkan seorang hamba kepada Allah. Setidaknya ada 3 hal, yaitu.

1. Berharap amal ibadahnya diterima oleh Allah.

2. Berharap Allah mengampuni dosa-dosanya.

3. Menginginkan karunia yang Allah janjikan (surga ataupun pahala yang besar)

Terjadi khilaf dikalangan ulama mana yang lebih utama antara rasa takut dan rasa harap.

Yang benar, rasa takut dan rasa harap (roja) harus seimbang.

Tidak boleh berharap kepada orang yang sudah meninggal. (Syirik besar)

Pembagian rasa harap (roja) yang menyimpang.

1. Berharap tapi tidak beramal. Tidak benar roja semacam ini.

2. Roja yang tidak diiringi rasa takut. Roja dan takut harus seimbang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bab Mencari Berkah

Ustadz Muhammad Hafidz Anshori, Lc 31 Juli 2022 / 03 Muharram 1444 Masjid Al Faruq Banjar  Orang musyrikin bangga dengan anak laki-laki, namun mereka menganggap Allah mempunyai anak perempuan. Latta, Uzza, Mana, adalah nama berhala besar yang dibuat oleh kaum musyirikin. Ketiga berhala tersebut adalah nama-nama Allah yang dijadikan muannats / perempuan (kaidah bahasa arab). Latta, Uzza, Mana dianggap anak perempuan Allah oleh kaum musyrikin. Padahal kaum musyirikin tidak menyukai anak perempuan. Tidak boleh mencari keberkahan kepada batu, pohon, kuburan. Secara asal, hukumnya adalah syirik kecil. Ketika mencari keberkahan harus merujuk kepada dalil. Sebagian makhluk, waktu, tempat dijadikan mengandung keberkahan oleh Allah. Contoh: fisik nabi, makan sahur, bulan ramadhan, masjidil haram dll. Foto bukan sumber keberkahan. Foto siapapun, karena tidak ada dalil yang menetapkan foto mengandung keberkahan. Penyebab utama jatuh ke dalam kesyirikan adalah kebodohan, tidak belajar. Niat ya...

Tauhid Uluhiyah

Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc 21 Juni 2023 / 03 Dzulhijjah 1444 Masjid Imam Syafi'i Banjarmasin   Kata tauhid sering diartikan dengan uluhiyah dalam buku-buku Islam. Tauhid uluhiyah, menjadikan ibadah satu-satunya hanya untuk Allah Ta'ala. Al uluhiyah berasal dari kata al illah, yang merupakan salah satu dari nama Allah Ta'ala. Al husna, nama-nama Allah Ta'ala yang artinya sampai kepada puncak kebaikan. Jika orang kafir bertanya, siapa Allah, maka jawabannya adalah Zat Yang Ditaati atau Zat Yang Diibadahi. Allah Ta'ala memiliki sifat diibadahi. Ibadah akan sah disisi Allah, jika dipenuhi 3 rukun, yaitu 1. Rasa harap 2. Rasa takut 3. Rasa cinta

Keutamaan Mengajarkan Ilmu

Ustaz Dr. M. Haikal Ali Basyarahil, Lc, MA Jumat, 21 Shafar 1447/15 Agustus 2025 Masjid Imam Syafii Abu Musa Al Asy'ari, sahabat nabi yang didoakan nabi. Abu Musa, banyak berdakwah di kota Yaman. Meninggal tahun 42 H. Orang dan ilmu diibaratkan nabi dengan tanah. Ada 3 macam tanah, tanah yang bisa menyerap air, tanah yang tidak menyerap air tapi menahan (tanah ini masih ada manfaat utk tanaman), ada tanah yang tidak menyerap dan menahan. Tanah jenis 1, orang yang paham ilmu, mengamalkannya. Tanah jenis 2, orang yang paham ilmu, tidak mengamalkan (perkara sunnah), namun menyebarkannya. Tanah jenis 3, orang yang tidak paham ilmu. Tanah jenis 2 persis seperti orang Yahudi, mengetahui ilmu (kebenaran) namun tidak mengamalkan. Ilmu harus mempengaruhi diri (menjadi lebih baik). Orang berilmu hidupnya tenang. Ilmu erat kaitannya dengan petunjuk. Misi nabi adalah menyampaikan ilmu dan petunjuk. Ahli ilmu mengatakan (Ibnu Qayyim), ilmu menjadi kebutuhan manusia melebihi makan dan minum. Mer...