Langsung ke konten utama

Bab Mencari Berkah

Ustadz Muhammad Hafidz Anshari, Lc
03 Juli 2022 / 04 Dzulhijjah 1433
Masjid Al Faruq Banjar

Ibadah tidak bisa diterima kecuali dibangun berdasarkan ilmu.

Mencari berkah, mencari kebaikan yang tetap dan berkesinambungan.

Mencari berkah ada yang sesuai syariat dan ada yang tidak, bahkan bisa menjerumuskan ke dalam kesyirikan.

Mencari berkah seringkali sudah menjadi budaya sehingga sulit untuk disadarkan.

Kuburan banyak dianggap sebagai tempat yang berkah. Padahal masjid adalah tempat yang berkah.

Dalam bahasa arab, barokah maknanya adalah bertambah dan menetap.

Diantara sebab mencari keberkahan adalah bersyukur. Saat hamba bersyukur, nikmat akan ditambah. Maka bersyukur adalah sebab keberkahan.

Keberkahan hanya datang dari Allah.

Oleh karena itu, mencari keberkahan harus sesuai dengan yang dijelaskan oleh syariat.

Sifat Allah Tabaraka, hanya boleh dinisbatkan kepada Allah. Tabarakallah.

Allah menentukan zat, tempat, waktu yang berkah.

Allah memberikan keberkahan kepada para nabi.

Nabi Isa adalah hamba Allah yang selalu diberkahi dimanapun berada. Hikmah dari para ulama, karena beliau senantiasa mengajarkan kebaikan.

Allah memilih sebagian tempat memiliki keberkahan seperti Mekkah, Madinah.

Mengambil berkah di Mekah dan Madinah adalah dengan cara beribadah disana, bukan dengan mengambil tanahnya atau zat yang lain.

Allah memberi keberkahan pada sebagian waktu seperti bulan Ramadhan, malam Lailatul Qadar, 10 hari awal bulah Dzulhijjah, hari jumat, sepertiga malam terakhir.

Mengambil keberkahan di waktu yang memiliki keberkahan adalah dengan beribadah pada waktu tersebut.

Allah juga memberi keberkahan terhadap benda seperti hujan, makan sahur.

Makanan yang berkah adalah makanan yang membawa kedalam ketaatan kepada Allah.

Air zamzam, kurma ajwa, pohon zaitun juga mengandung keberkahan.

Keberkahan ada 2, keberkahan agama, keberkahan dunia.

Keberkahan agama contohnya adalah 3 masjid, masjidil haram, masjid nabawi, masjidil aqsa.

Keberkahan dunia contohnya zaitun, zamzam, air hujan, kesehatan.

Keberkahan juga terbagi 2, keberkahan zat dan keberkahan maknawi.

Keberkahan ka'bah adalah keberkahan maknawi, bukan zat. Sehingga meraih keberkahan ka'bah bukan dengan mengambil zatnya.

Keberkahan zat, seperti air hujan, air zamzam, kurma.

Fisik nabi Muhammad adalah keberkahan zat. Namun ini tidak bisa dikiaskan ke orang lain.

Para sahabat tidak pernah menjadikan zat fisik diri mereka sebagai sumber keberkahan.

Para tabi'in tidak pernah mencari keberkahan kepada para sahabat secara zatnya.

Mengambil berkah kepada orang salih (secara zat) akan menyebabkan berlebih-lebihan kepada orang salih.

Berlebih-lebihan kepada orang salih dapat menyebabkan kesyirikan.

Mengambil berkah kepada orang salih dapat menyebabkan fitnah bagi orang salih tsb seperti ujub.

Para sahabat tidak meminta keberkahan antar para sahabat yang lain.

Mengambil berkah dari orang salih adalah dengan mengambil ilmu, minta nasihat dari beliau. Contohnya para sahabat saling belajar.

Hukum mencari keberkahan dari pohon atau batu adalah kesyirikan, karena mencari keberkahan adalah ibadah dan ibadah hanya ditujukan kepada Allah.

Mencari keberkahan yang tidak sesuai syariat bisa syirik kecil, bisa juga syirik besar.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keutamaan Mengajarkan Ilmu

Ustaz Dr. M. Haikal Ali Basyarahil, Lc, MA Jumat, 21 Shafar 1447/15 Agustus 2025 Masjid Imam Syafii Abu Musa Al Asy'ari, sahabat nabi yang didoakan nabi. Abu Musa, banyak berdakwah di kota Yaman. Meninggal tahun 42 H. Orang dan ilmu diibaratkan nabi dengan tanah. Ada 3 macam tanah, tanah yang bisa menyerap air, tanah yang tidak menyerap air tapi menahan (tanah ini masih ada manfaat utk tanaman), ada tanah yang tidak menyerap dan menahan. Tanah jenis 1, orang yang paham ilmu, mengamalkannya. Tanah jenis 2, orang yang paham ilmu, tidak mengamalkan (perkara sunnah), namun menyebarkannya. Tanah jenis 3, orang yang tidak paham ilmu. Tanah jenis 2 persis seperti orang Yahudi, mengetahui ilmu (kebenaran) namun tidak mengamalkan. Ilmu harus mempengaruhi diri (menjadi lebih baik). Orang berilmu hidupnya tenang. Ilmu erat kaitannya dengan petunjuk. Misi nabi adalah menyampaikan ilmu dan petunjuk. Ahli ilmu mengatakan (Ibnu Qayyim), ilmu menjadi kebutuhan manusia melebihi makan dan minum. Mer...

Zuhud dan Wara'

Ustadz Muhammad Hafidz Anshari, BA 02 Januari 2022 / 10 Jumadil Akhir 1444 Masjid Imam Syafi'i Banjarmasin  Zuhud ada 2 macam 1. Zuhud terhadap dunia 2. Zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi akhirat. Zuhud juga bisa diartikan meninggalkan hal yang dapat membuat berpaling dari Allah ta'ala. Dunia tidak tercela, tapi jika mementingkan kepentingan dunia daripada akhirat, maka ini tercela. Dalam mengumpulkan harta, maka harta harus menjadi sarana untuk tujuan akhirat. Harta akhirat manfaatnya jauh lebih besar daripada harta dunia. Seperti halnya hadits masyhur tentang keutamaan solat sunnah qobliyah subuh. Dunia tidak tercela secara zat nya. Namun yang dilihat adalah caranya mendapatkan dunia.  Kemudian apakah dunia itu menjadi sarana dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Yang perlu diperhatikan adalah sikap dan cara nya memandang dunia. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berdoa agar jangan sampai dunia...

Tauhid Uluhiyah

Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc 21 Juni 2023 / 03 Dzulhijjah 1444 Masjid Imam Syafi'i Banjarmasin   Kata tauhid sering diartikan dengan uluhiyah dalam buku-buku Islam. Tauhid uluhiyah, menjadikan ibadah satu-satunya hanya untuk Allah Ta'ala. Al uluhiyah berasal dari kata al illah, yang merupakan salah satu dari nama Allah Ta'ala. Al husna, nama-nama Allah Ta'ala yang artinya sampai kepada puncak kebaikan. Jika orang kafir bertanya, siapa Allah, maka jawabannya adalah Zat Yang Ditaati atau Zat Yang Diibadahi. Allah Ta'ala memiliki sifat diibadahi. Ibadah akan sah disisi Allah, jika dipenuhi 3 rukun, yaitu 1. Rasa harap 2. Rasa takut 3. Rasa cinta